pupuk organik

now browsing by tag

 
 

Manfaat Biji Mahkota Dewa Sebagai Pestisida Alami

Biji dari tanaman mahkota baladewa merupakan bagian tanaman yang memiliki kandungan racun cukup tinggi. Kandungan utama yang terdapat pada tanaman ini ialah saponin. Senyawa ini telah diteliti dan diketahui sangat efektif untuk pengendalian hama keong mas, yang kita tau sebagai salah satu hama pada tanaman padi.

Dari hasil beberapa penelitian menunjukan bahwa ekstrak dari biji tanaman mahkota dewa memiliki tingkat efektifitas lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak rerak jika dimanfaatkan sebagai molukisida nabati. Hal ini disebabkan karena kandungan saponin yang dimiliki oleh tumbuhan mahkota baladewa lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan yang dimiliki oleh tanaman rerak.

Selain memiliki sifat moluskisidal, saponin juga bersifat fungisidal, baterisidal, dan antiviral. Selain dimanfaatkan untuk pengendalian keong pada tanaman padi. Diharapkan tumbuhan mahkota baladewa juga dapat dimanfaatkan sebagai pengendali OPT lain yang kerap kali menyerang tanaman padi.

Untuk pembuatan pestisida nabati dari tanaman mahkota baladewa cukup mudah.
– Giling atau tumbuk 100gr biji mahkota baladewa hingga halus.
– Rendam biji yang telah halus dalam 250 ml air selama 24 jam.
– Saring air tersebut agar tidak menyumbat pada nozel penyemprot.
– Tambahkan 50ml minyak tanah/solar dan 5-10gr sabun colek.
– Aduk hingga homogen.
– Larutkan dalam 10 liter air.
– Tambahkan POC Ijo Royo-Royo 10ml/2l air
– Pestisida nabati siap digunakan.

Secara umum pemanfaatan pestisida nabati memiki prospek yang cukup menjanjikan. Hal ini cukup relevan karena proses pembuatan formula ini tidak membutuhkan teknologi tinggi dan bahan aktif yang dimiliki mudah terurai (bio-degradable) sehingga memiki sifat yang bersahabat dengan lingkungan dan tidak membahayakan bagi manusia.

Pestisida nabati memiliki peran sebagai penghambat nafsu makan pada serangga. Sehingga dapat meminimalisir kerusakan pada tanaman. Keunggulan lain yang dimiliki pestisida nabati yaitu memiliki spectrum pengendalian dengan cakupan yang cukup luas dan dapat digunakan sebagai pengendalian hama yang telah resisten terhadap insektisida sintetis. Karena memiliki tingkat toksisitas terhadap mamalia cukup rendah. Maka dari itu insektisida nabati ini sangat aman bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Perhitungan Perkiraan Produksi Padi “Jimmy Hantu”

Dalam hal budidaya padi, hasil panen yang berlipat ganda dari hitungan normal menjadi impian yang dimiliki oleh petani padi. Mayoritas petani belum menguasai teknik perhitungan dalam budidaya padi yang mereka garap. Selama ini petani melakukan perkiraan produksi hanya dengan pengamatan visual dan penaksiran produksi oleh pemborong yang cenderung memiliki hasil subjektif dan tingkat keakuraatan sangat kecil.

Ada beberapa metode ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan metode perkiraan produksi padi. Kami akan memberikan uraian 2 metode sederhana yang sering digunakan untuk menentukan dan perkiraan produksi padi.

  1. Metode Ubinan

Metode ini paling sering digunakan untuk memperkirakan produksi padi. Metode umbinan menggunakan sampling dari hasil panen dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 m). Metode ini sering dilakukan petugas dari dinas pertanian ataupun petugas dari perusahaan pestisida, pupuk, alsintan petanian untuk pengukuran produksi pada saat kegiatan panen raya ataupun kegiatan besar lainnya. Pada metode ini dilakukan pada padi yang sudah siap dipanen. Waktu yang  biasa digunakan untuk teknik ini pukul 09.00 – 12.00.

Alat utama yang digunakan untuk metode ini, antara lain :

  1. Square umbinan (uk 2,5 x 2,5 m), atau menggunakan alternatif  tali, bambu, dan besi berukuran 4 persegi.
  2. Ukuran yang digunakan harus sesuai dengan jarak tanam padi yang dipakai (lihat di tabel).Faktor Pengali
  3. Alat untuk panen (arit dan sabit bergerigi).
  4. Terpal untuk penampungan hasil panen.
  5. Alat perontok gabahbermesin ataupun manual.
  6. Alat timbang (gantung / duduk).
  7. Tampah
  8. Karung.
  9. Alat tulis.

Cara melakukan metode ini :

  • Tentukan 2 atau 3 titik lokasi ubinan pada lahan yang akan diukur secara acak.
  • Jangan menggunakan tanaman padi yang berada pada bagian pinggir/tepi sebagai titik sampling ubinan.
  • Tempatkan square ubinan pada titik yang telah ditentukan. Perhatikan batas titik tepi alat ubinan diusahakan berada pada titik tepi rumpun padi.
  • Panen per titik bagian yang sudah ditandai alat ubinan.
  • Letakkan hasil panen pada terpal, kemudian rontokkan.
  • Pisahkan gabah dengan jerami menggunakan tampah dan masukkan dalam karung.
  • Timbang dan lakukan pencatatan pada setiap titik hasil ubinan.
  • Lakukan kembali langkah-langkah diatas untuk titik lainnya.

Cara menghitung :

  1. Pada setiap titik mendapatkan data sebagai berikut
    • Titik 1 : 5,5 kg
    • Titik 2 : 4,5 kg
    • Titik 3 : 5 kg
    • Rata-rata : 5 kg
  2. Jarak tanam padi digunakan untuk menentukan faktor pengali hasil ubinan. Contoh jarak tanam (25 x 25 cm), maka faktor pengalinya adalah 1600 (lihat tabel).
  3. Rumus Umbinan :
    • Perkiraan Produksi = Bobot ubinan x faktor pengali
    • Perkiraan Produksi = 5 kg x 1.600 = 8.000 kg = 8 Ton
  1. Metode Perhitungan 4 Faktor Komponen Produksi

Perkiraan produksi juga bisa dihitung dengan menggunakan perhitungan 4 faktor komponen produksi, yaitu :

  1. Ukuran jarak tanam
  2. Jumlah anakan produktif per rumpun
  3. Jumlah bulir per malai
  4. Bobot per 1000 bulir

Teknik perhitungan menentukan 4 faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  • Perhitungan pada metode umbian dilakukan pada saat tanaman menjelang masapanen, dan bisa juga dilakukan saat jauh hari sebelum tanaman dipanen, sehingga lebih fleksibel dalam melakukan pengukurannya (dengan catatan, jika dilakukan sebelum waktu panen, perhitungan parameter bobot 1000 butir menggunakan bobot standar bulir panen, yaitu sekitar 25 – 30 gram per 1000 butir)
  • Ukuran jarak tanam digunakan untuk menentukan populasi tanaman per hektar.
  • Populasi dihitung dengan rumus = 10.000/(jarak tanam dalam meter)
  • Jumlah populasi per hektar setiap jarak tanam yang digunakan, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
    No Cara dan jarak tanam Populasi (ha)
    1 Tegel 20 cm x 20 cm 250.000
    2 Tegel 22 cm x 22 cm 206.611
    3 Tegel 25 cm x 25 cm 160.000
    4 Legowo 2:1 (10 cm x 20 cm ) 333.333
    5 Legowo 3:1 (10 cm x 20 cm ) 375.000
    6 Legowo 4:1 (10 cm x 20 cm ) 400.000
    7 Legowo 2:1 (12,5 cm x 25 cm ) 213.000
    8 Legowo 3:1 (12,5 cm x 25 cm ) 240.000
    9 Legowo 4:1 (12,5 cm x 25 cm ) 256.000
  • Jumlah anakan produktif ditentukan dengan cara menghitung jumlah anakan yang mengeluarkan malai
  • Jumlah bulir per malai ditentukan dengan menghitung rata-rata jumlah bulir setiap malai pada rumpun/tanaman sampling
  • Bobot 1000 butir dihitung dengan menimbang bobot 1000 butir gabah dari masing-masing tanaman/rumpun sampling.

Cara perhitungan metode 4 faktor komponen produksi, sebagai berikut :

  • Menentukan 2 lokasi atau titik (titik 1 dan titik 2).
  • Jumlah populasi atau rumpun jika jarak tanam 25×25 cm adalah 160.000 rumpun/Ha
  • Misal lokasi 1:
    – Jumlah anakan per rumpun ada 14 anakan
    – Jumlah bulir per malai ada 118 bulir
    – Jumlah gram per 1000 bulir –> misal rata-rata sekitar 25 gram
  • Misal lokasi 2 :
    – Jumlah anakan per rumpun ada 16 anakan
    – Jumlah bulir per malai ada 110 bulir
    – Jumlah gram per 1000 bulir –> contoh rata-rata 35 gram
  • Rata-rata dari kedua lokasi adalah:
  • – Jumlah anakan (rumpun) = (14+16):2   = 15 anakan
    – Jumlah bulir (malay) = (118+110):2   = 114 bulir
    – Jumlah gram (1000 bulir)    = (25+35):2   = 30/1000 bulir

Rumus  = (jumlah rumpun per Ha) x (jumlah anakan) x (jumlah bulir) x (berat per 1000 bulir)

= (160.000) x (15) x (114) x (30/1000)
= 8.208.000 gram = 8.208 kg/Ha
= 8,208 ton/Ha GKP

Data  diatas merupakan haasil dari beberapa rangkuman dan riset. Semoga bermanfaat dan menjadikan panen anda melimpah.

Kenapa Harus Beralih Organik

Kol Jimmy Hantu

Suburnya pertanian organik ala Jimmy Hantu

Pertanyaan mendasar kenapa kita harus beralih organik dalam pemupukan? Pupuk kimia seperti Urea, ZA, SP36, KCL, NPK, Ponska dan lain-lain dalam bahasa perpupukan adalah anorganik saat ini telah menjadi pupuk andalan utama bagi masyarakt tani di Indonesia, dalam jangka pendek pupuk kimia memang bisa diandalkan sebagai pemicu untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, namun jika digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu lama penggunaan pupuk kimia justru akan menjadi bumerang bagi petani karena sifat kimiawinya akan mengikis kesuburan tanah itu sendiri.

Penggunaan pupuk kimia akan mempercepat masa tanam karena kandungan haranya akan sangat mudah dan cepat diserap langsung dalam tanah. Tetapi, dalam jangka panjang membuat tanah-tanah pertanian menjadi merana.

Sebenarnya, pupuk kimia tidak bisa diserap 100 % oleh tanah, sehingga menyisakan zat residu. Dan residu ini lah yang akan menjadikan tanah bermasalah. Jika telah kena air hujan, zat tersebut akan mengikat tanah seperti lem atau semen, dan setelah kering tanah sudah tidak akan gembur dan lebih cenderung mengeras. Lebih jauh lagi keasaman tanah jadi berubah tidak normal, dengan ketidak normalan tersebut mengakibatkan mikro organisme yang ada dalam tanah tidak mampu hidup. Padahal, tanah sangat membutuhkan mikro organisme untuk mengembalikan kesuburan tanah. Akhirnya, tanah pertanian yang sering memakai pupuk kimia tidak bisa menyediakan unsur hara secara mandiri, sudah pasti tanah tersebut akan bergantung pada pihak luar yaitu petani dan pupuk kimia.

Penggunaan pupuk kimia juga berdampak pada lingkungan, penggunaan yang terlalu banyak atau berlebihan akan mengakibatkan eutrofikasi yaitu dimana kondisi tanah kelebihan limbah fosfat (PO3-). Pupuk yang mengandung zat seperti nitrat dan fosfat. Sisa limbah tersebut akan menjadi racun untuk kehidupan perarian. Jika perairan sudah tercemar maka pertumbuhan gangang air menja berlebih dan unjungnya manjadikan perairan miskin oksigen. Kondisi ini akan mnyebabkan lingkungan yang beracun dan mempercepat kematian fauna dalam perairan.

Menyedihkanya pupuk kimia yang mengandung karbon diaksida, metana, amonia, dan juga nitrogen dapat menimbulkan pemanasan global.  Bahkan, nitrat oksida, yang merupakan produk sampingan dari nitrogen, adalah penyumbang gas rumah kaca ketiga yang paling signifikan, setelah karbon dioksida dan metana.

Kondisi ini, membuat petani Indonesia bahkan dunia menjadi dilematis, betapa tidak jika melepas pupuk kimia, kondisi tanah sudah sangat tergantung, jika tidak dilepas, kondisinya akan semakin parah. Apalagi mindset petani kita yang penting cepat panen, tidak mau berfikir generasi berikutnya.

Hipotesa yang dapat kita ambil, saat ini petani semakin tidak sejahtera. Karena petani harus menggunakan pupuk kimia secara berlebihan untuk mempertahankan kesuburan tanahnya. Tentu dengan berbiaya sangat mahal apalagi jika ditambah dengan isu subsidi pupuk, sementara hasil panen tetap sama bahkan lebih sedikit, belum lagi jika harga komoditas hancur. Ujung-ujungnya petani semakin miskin dan terpinggirkan.

Beralih ke Organik Why Not ?

Untuk Itu petani mesti diedukasi, dampak bahaya pupuk kimia. Tetapi, disisi lain petani juga harus diberikan alternatif lain pemakaian pupuk, yaitu Organik.

Menurut peraturan Kementrian Pertanian No.2 tahun 2006, pupuk organik memiliki definisi pupuk yang berfungsi melakukan pembenahan tanah, selain itu pupuk organik daoat diartikan sebagai pupuk yang sebagian atau seluruhnya berasal dari dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Pupuk organik memiliki beraneka ragam jenis dan varian. Jenis-jenis pupuk organik dapat dibedakan dari bahan dasarnya, metode pembuatan dan bentuknya. Dari sisi bahan dasar ada yang terbuat dari kotoran binatang, hijauan atau campuran dari keduanya. Dari sisi cara membuatnya,  ada banyak model, seperti kompos aerob, bokashi, dan lain sebagainya. Sedangakan dar sisi bentuk ada yang serbuk, cair maupun tablet atau granul.

Berikut ini adalah manfaat yang diperoleh apabila menggunakan pupuk organik:

  • Pupuk organik akan memberikan kehidupan mikroorganisme tanah yang selama ini menjadi sahabat petani dengan lebih baik.
  • Pupuk organik mampu berperan memobilisasi atau menjembatani hara yang sudah ada ditanah sehingga mampu membentuk partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman.
  • Unsur mikro dalam pupuk organik lebih lengkap dibanding pupuk anorganik.
  • Secara terus menerus pupuk organik memili peran dalam pelepasan hara tanah secara perlahan sehingga dapat membantu dan mencegah terjadinya ledakan suplai hara yang berlebih.
  • Dengan pupuk organik struktur tanah lebih baik artinya komposisi partikel yang berada dalam tanah lebih stabil dan cenderung meningkat karena struktur tanah sangat berperan dalam pergerakan air dan partikel udara dalam tanah, aktifitas mikroorganisme menguntungkan, pertumbuhan akar, dan kecambah biji.
  • Pupuk organik sangat membantu mencegah terjadinya erosi lapisan atas tanah yang merupakan lapisan mengandung banyak hara.
  • Pemakaian pupuk organik juga berperan penting dalam merawat/menjaga tingkat kesuburan tanah yang sudah dalam keadaaan berlebihan pemupukan dengan pupuk anorganik/kimia dalam tanah.
  • Pupuk organik berperan positif dalam menjaga kehilangan secara luas hara Nitrogen dan Fosfor terlarut dalam tanah
  • Pupuk organik membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi tekanan atau tegangan struktur tanah pada akar-akar tanaman, sehingga tanaman terhindar dari kekeringan.
  • Keberadaan pupuk organik yang tersedia secara melimpah dan mudah didapatkan.
  • Kualitas tanaman yang menggunakan pupuk organik akan lebih bagus jika dibanding dengan pupuk kimia sehingga tanaman tidak mudah terserang penyakit dan tanaman lebih sehat.
  • Untuk kesehatan manusia tanaman yang menggunakan pupuk organik lebih menyehatkan karena kandungan nutrisinya lebih lengkap dan lebih banyak.

Tentunya penggunaan pupuk organik perlu waktu yang cukup panjang, mengingat kondisi tanah yang sudah semakin merana. Tetapi, saat ini sudah ada teknologi pupuk organik yang mampu menjawab dan merubah kondisi tanah dan tumbuhan dengan baik dan cepat, salah satu pupuk yang menggunakan teknologi tersebut adalah Pupuk Hantu –dengan berbagai Jenis POC Ijo Royo Royo, ZPT Hantu Ratu Biogen dan NPK Jago Tani. Jadi, petani tidak perlu kawatir lagi jika beralih dari kimia menjadi organik, mudah mendapatkanya dan tentunya efisien dalam menyelesaikan masalah kesuburan tanah dan tanaman.

Nah, sebagai petani yang cerdas mari beralih dari kimiawi menjadi pengguna pupuk organik, kesajahteraan petani pasti meningkat, semoga