padi

now browsing by tag

 
 

Perhitungan Perkiraan Produksi Padi “Jimmy Hantu”

Dalam hal budidaya padi, hasil panen yang berlipat ganda dari hitungan normal menjadi impian yang dimiliki oleh petani padi. Mayoritas petani belum menguasai teknik perhitungan dalam budidaya padi yang mereka garap. Selama ini petani melakukan perkiraan produksi hanya dengan pengamatan visual dan penaksiran produksi oleh pemborong yang cenderung memiliki hasil subjektif dan tingkat keakuraatan sangat kecil.

Ada beberapa metode ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan metode perkiraan produksi padi. Kami akan memberikan uraian 2 metode sederhana yang sering digunakan untuk menentukan dan perkiraan produksi padi.

  1. Metode Ubinan

Metode ini paling sering digunakan untuk memperkirakan produksi padi. Metode umbinan menggunakan sampling dari hasil panen dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 m). Metode ini sering dilakukan petugas dari dinas pertanian ataupun petugas dari perusahaan pestisida, pupuk, alsintan petanian untuk pengukuran produksi pada saat kegiatan panen raya ataupun kegiatan besar lainnya. Pada metode ini dilakukan pada padi yang sudah siap dipanen. Waktu yang  biasa digunakan untuk teknik ini pukul 09.00 – 12.00.

Alat utama yang digunakan untuk metode ini, antara lain :

  1. Square umbinan (uk 2,5 x 2,5 m), atau menggunakan alternatif  tali, bambu, dan besi berukuran 4 persegi.
  2. Ukuran yang digunakan harus sesuai dengan jarak tanam padi yang dipakai (lihat di tabel).Faktor Pengali
  3. Alat untuk panen (arit dan sabit bergerigi).
  4. Terpal untuk penampungan hasil panen.
  5. Alat perontok gabahbermesin ataupun manual.
  6. Alat timbang (gantung / duduk).
  7. Tampah
  8. Karung.
  9. Alat tulis.

Cara melakukan metode ini :

  • Tentukan 2 atau 3 titik lokasi ubinan pada lahan yang akan diukur secara acak.
  • Jangan menggunakan tanaman padi yang berada pada bagian pinggir/tepi sebagai titik sampling ubinan.
  • Tempatkan square ubinan pada titik yang telah ditentukan. Perhatikan batas titik tepi alat ubinan diusahakan berada pada titik tepi rumpun padi.
  • Panen per titik bagian yang sudah ditandai alat ubinan.
  • Letakkan hasil panen pada terpal, kemudian rontokkan.
  • Pisahkan gabah dengan jerami menggunakan tampah dan masukkan dalam karung.
  • Timbang dan lakukan pencatatan pada setiap titik hasil ubinan.
  • Lakukan kembali langkah-langkah diatas untuk titik lainnya.

Cara menghitung :

  1. Pada setiap titik mendapatkan data sebagai berikut
    • Titik 1 : 5,5 kg
    • Titik 2 : 4,5 kg
    • Titik 3 : 5 kg
    • Rata-rata : 5 kg
  2. Jarak tanam padi digunakan untuk menentukan faktor pengali hasil ubinan. Contoh jarak tanam (25 x 25 cm), maka faktor pengalinya adalah 1600 (lihat tabel).
  3. Rumus Umbinan :
    • Perkiraan Produksi = Bobot ubinan x faktor pengali
    • Perkiraan Produksi = 5 kg x 1.600 = 8.000 kg = 8 Ton
  1. Metode Perhitungan 4 Faktor Komponen Produksi

Perkiraan produksi juga bisa dihitung dengan menggunakan perhitungan 4 faktor komponen produksi, yaitu :

  1. Ukuran jarak tanam
  2. Jumlah anakan produktif per rumpun
  3. Jumlah bulir per malai
  4. Bobot per 1000 bulir

Teknik perhitungan menentukan 4 faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  • Perhitungan pada metode umbian dilakukan pada saat tanaman menjelang masapanen, dan bisa juga dilakukan saat jauh hari sebelum tanaman dipanen, sehingga lebih fleksibel dalam melakukan pengukurannya (dengan catatan, jika dilakukan sebelum waktu panen, perhitungan parameter bobot 1000 butir menggunakan bobot standar bulir panen, yaitu sekitar 25 – 30 gram per 1000 butir)
  • Ukuran jarak tanam digunakan untuk menentukan populasi tanaman per hektar.
  • Populasi dihitung dengan rumus = 10.000/(jarak tanam dalam meter)
  • Jumlah populasi per hektar setiap jarak tanam yang digunakan, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
    No Cara dan jarak tanam Populasi (ha)
    1 Tegel 20 cm x 20 cm 250.000
    2 Tegel 22 cm x 22 cm 206.611
    3 Tegel 25 cm x 25 cm 160.000
    4 Legowo 2:1 (10 cm x 20 cm ) 333.333
    5 Legowo 3:1 (10 cm x 20 cm ) 375.000
    6 Legowo 4:1 (10 cm x 20 cm ) 400.000
    7 Legowo 2:1 (12,5 cm x 25 cm ) 213.000
    8 Legowo 3:1 (12,5 cm x 25 cm ) 240.000
    9 Legowo 4:1 (12,5 cm x 25 cm ) 256.000
  • Jumlah anakan produktif ditentukan dengan cara menghitung jumlah anakan yang mengeluarkan malai
  • Jumlah bulir per malai ditentukan dengan menghitung rata-rata jumlah bulir setiap malai pada rumpun/tanaman sampling
  • Bobot 1000 butir dihitung dengan menimbang bobot 1000 butir gabah dari masing-masing tanaman/rumpun sampling.

Cara perhitungan metode 4 faktor komponen produksi, sebagai berikut :

  • Menentukan 2 lokasi atau titik (titik 1 dan titik 2).
  • Jumlah populasi atau rumpun jika jarak tanam 25×25 cm adalah 160.000 rumpun/Ha
  • Misal lokasi 1:
    – Jumlah anakan per rumpun ada 14 anakan
    – Jumlah bulir per malai ada 118 bulir
    – Jumlah gram per 1000 bulir –> misal rata-rata sekitar 25 gram
  • Misal lokasi 2 :
    – Jumlah anakan per rumpun ada 16 anakan
    – Jumlah bulir per malai ada 110 bulir
    – Jumlah gram per 1000 bulir –> contoh rata-rata 35 gram
  • Rata-rata dari kedua lokasi adalah:
  • – Jumlah anakan (rumpun) = (14+16):2   = 15 anakan
    – Jumlah bulir (malay) = (118+110):2   = 114 bulir
    – Jumlah gram (1000 bulir)    = (25+35):2   = 30/1000 bulir

Rumus  = (jumlah rumpun per Ha) x (jumlah anakan) x (jumlah bulir) x (berat per 1000 bulir)

= (160.000) x (15) x (114) x (30/1000)
= 8.208.000 gram = 8.208 kg/Ha
= 8,208 ton/Ha GKP

Data  diatas merupakan haasil dari beberapa rangkuman dan riset. Semoga bermanfaat dan menjadikan panen anda melimpah.

TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN TEKNOLOGI JIMMY HANTU 150

sawah

A. Persiapan benih

Kebutuhan benih 20-30 kg / ha
1. Pilih varietas yang paling sesuai dengan agroekosistem setempat dan berdaya hasil tinggi.
2. Tingkat kemurnian daya tumbuh yang tinggi > 85 %,identitas varietas jelas,vigor baik,sehat dan bernas. Pada umumnya,benih bermutu ditunjukkan dengan berlabel.

Perendaman dan pemeraman benih
1. Larutkan 2 cc ZPT Hantu/ZPT Santan dengan 10 liter air. Setiap 1 liter larutan untuk 1 kg benih.
2. Rendam benih dalam larutan selama 48 jam.
3. Tiriskan benih dan peram selama 24 jam, atau sampai benih berkecambah. Adapun cara pemeraman adalah sebagai berikut : masukan benih dalam karung, kira-kira ¼ isi karung. Letakkan karung mendatar dan dibolak-balik.

B. Persiapan persemaian

1. Luas areal persemaian untuk pertanaman 1 ha = 500 m2.
2. Pengolahan tanah sempurna ( bajak singkal, rotary dan garu/perataan ).
3. Pemupukan dasar dengan pupuk kompos 50 kg dan ZPT Hantu/ZPT Santan 2 cc/liter air.
4. Buat bedengan selebar 1,5 m, tinggi bedengan 20 cm, dan jarak antar bedengan 30 cm.
5. Ratakan permukaan bedengan dengan sempurna.

C. Penyemaian dan pemeliharaan

1. Tabur benih secara merata : Bagi benih sesuai dengan jumlah bedengan kemudian taburkan masing-masing bagian benih secara merata pada setiap bedengan.
2. Benamkan benih ke dalam lumpur,dangkal,asal tidak tersembul.
3. Pupuk persemaian pada waktu 10 hari setelah tabur dengan ZPT Hantu/ZPT Santan 2 cc/liter air.
4. Sistem pengairan macak-macak.

D. Penyiapan lahan

1. Pengolahan tanah sempurna 1 minggu sebelum tanam : bajak singkal, rotary, dan garu/perataan.
2. Buat parit kecil ( kemalir ) sekeliling petakan dan di pertengahan memotong panjang dan lebar petakan.
3. Berikan pupuk dasar sebelum tanam dengan pupuk kompos 1000 kg dan ZPT Hantu/ZPT Santan
2 cc/liter air.

E. Penanaman

1. Penanaman dilakukan pada waktu bibit berumur 15 hari setelah tebar.
2.Jarak tanam

No Cara dan jarak tanam Populasi (ha)
1 Tegel 20 cm x 20 cm 250.000
2 Tegel 22 cm x 22 cm 206.611
3 Tegel 25 cm x 25 cm 160.000
4 Legowo 2:1 (10 cm x 20 cm ) 333.333
5 Legowo 3:1 (10 cm x 20 cm ) 375.000
6 Legowo 4:1 (10 cm x 20 cm ) 400.000
7 Legowo 2:1 (12,5 cm x 25 cm ) 213.000
8 Legowo 3:1 (12,5 cm x 25 cm ) 240.000
9 Legowo 4:1 (12,5 cm x 25 cm ) 256.000

3.Jumlah bibit : 2 bibit/lubang.
4.Penanaman dangkal, kedalaman 2-3 cm.
5. Sistem pengairan macak-macak.

F. Pemeliharaan tanaman

1. Pemupukan
a.Pupuk susulan ke-1 pada umur 10 hari hst dengan dosis 3 cc/liter air air.
b.Pupuk susulan ke-2 pada umur 20 hari hst dengan dosis 3 cc/liter air air.
c. Pupuk susulan ke-3 pada umur 30 hari hst dengan dosis 3 cc/liter air air.
d.Pupuk susulan ke-4 pada umur 50 hari hst dengan dosis 3 cc/liter air air.
e.Pupuk susulan ke-5 pada umur 70 hari hst dengan dosis 3 cc/liter air air.
g. Aplikasi umur 0 – 1 bulan dengan ZPT Hantu/ZPT Santan
h.Aplikasi umur 1 bulan – panen dengan ZPT Hantu/ZPT Santan dan NPK Hantu Jago Tani.
2. Penyiangan
Dilakukan sebanyak 2 kali saat tanaman berumur 3 dan 5 minggu setelah tanam
3. Penyulaman
Penyulaman dimaksudkan untuk mengisi rumpun yang mati atau kurang baik pertumbuhannya, agar diperoleh populasi yang optimum. Penyulaman dilakukan sebanyak 1 kali, yaitu sekitar 1 minggu setelah tanam.
4. Pengendalian hama dan penyakit
1. Identifikasi jenis dan tingkat populasi hama.
2. Identifikasi jenis penyakit :
– Cendawan
– Bakteri
– Virus
3. Menentukan tingkat kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit.
4. Mengusahakan tanaman sehat.
5. Penggunaan varietas tahan.
6. Pengendalian hayati ( penggunaan musuh alami/predator, patogen antagonis ).
7. Menggunakan lampu perangkap untuk pengendalian hama ulat grayak, dan penggerek batang.
8. Menggunakan bau amis dari kepiting untuk pengendalian hama walang sangit dan wereng.
9. Rotasi tanaman seperti padi-padi-kedelai/jagung/kacang hijau.
10. Menggunakan pestisida nabati sebagai alternatif akhir untuk mengendalikan hama berdasarkan hasil pengamatan.

G. Panen

Pemanenan gabah yang ideal dilakukan bila :
1. Sudah 90 % masak fisiologis,artinya 90 % gabah telah berubah warna dari hijau menjadi kuning.
2. Bila dihitung dari masa berbunga, telah mencapai 30-35 hari.
3. Bila dihitung dari sejak sebar sampai umur sesuai dengan deskripsi varietas.
4. Keringkan sawah kira-kira 1 minggu menjelang panen,agar memudahkan pelaksanaan panen.
KET : CARA APLIKASI YAITU SISTEM PENYEMPROTAN DENGAN PENGKABUTAN. DAN HINDARI PENYEMPROTAN BASAH PADA SAAT BERBUNGA.

1 tutup botol = 10 cc