Catatan

now browsing by category

 

Menanamlah dengan Cinta

durian

Durian umur dua tahun pun sudah berbunga, ini karena buah cinta dan kasih

Sebaik Baiknya Manusia Ini Lebih Baik dibandingkan Malaikat. Seburuk buruk manusia bisa lebih buruk dibandingkan binatang.

Sebaik baik perlakuan itu adalah dengan hati dan amal perbuatan. Semakin baik hati dan amal perbuatannya dalam menjalankan kehidupan, maka akan kelihatan hasil yang sangat baik. Begitu pula sebaliknya jika hati penuh kebencian dan amal yang buruk, hasilnya juga akan berbanding lurus.

Sebaik baik petani itu yang hatinya cinta dengan tanaman dan memperlakukan tanaman sebagaimana ia melakukan perawatan terhadap jiwa raganya sendiri. Jika kecintaan kita berikan 100%  pada tanaman, niscaya tanaman juga akan mengerti dan akan memberikan terbaik buat kita. Dan begitu juga jika, semakin buruk hatinya maka pengaruh pada tanaman juga tidak baik. Semakin pikirannya banyak masalah maka pada tanaman bisa bermasalah.

caisim

Caisim pun bak raksasa tumbuh sangat subur kalau semua diberi cinta

Ingat, tanaman juga punya perasaan. Makin baik perasaan dan pikiran kita begitu juga hingga perlakuan terhadap tanaman, maka makin baik hasil yang kita tanam. Saat musim panas maka tanaman butuhnya air yang seger-seger. Saat musim penghujan butuhnya makanan yang enak enak.

Jadi tidak perlu berdebat lagi, jika ingin sukses menjadi petani, bersihkan hati penuhi dengan rasa cinta. Yakinlah Tuhan akan menolong dan membantu kita, begitu juga tanaman akan mengulurkan “tangannya” untuk menggapai cinta kita.

Satu lagi, jangan lupa bercocok tanamlah dengan benar dan penuh kasih. Hasilnya pasti akan ikut. (JH-ES)

Jalan Senyap Perubahan

Kandang Jimmy Hantu

Kandang Hewan Peliharaan Jimmy Hantu membuat hati teduh mata sejuk

Bogor-JH. Ini bukan kebun binatang. Ini adalah salah satu sudut area pabrik pupuk organik–dengan merek produk pupuk hormon yang tenar,  yaitu ZPT Hantu Ratu Biogen, POC Ijo Royo-Royo, dan NPK Jago Tani- milik salah satu senior saya Bang Jimmy -biasa kami panggil- di kalangan mahasiswa dulu.

Pabrik ini berdiri di lahan seluas 5 hektar, kawasan Kecamatan Tamansari, Bogor. Pabrik ini memang tak lazim. Ada dua kandang besar berisi unggas. Satu kandang besar berisi 5 ekor kerbau plus kubangan. Satu komplek kandang kambing, dan dua petak kolam ikan.

Di antaranya terdapat petak-petak sawah dan perkebunan yang merupakan lahan praktek lapangan siswa SMK Pertanian yang juga milik senior saya tersebut. “⅔ lahan pabrik ini memang digunakan untuk aktifitas sosial,” kata Ucok salah satu staff  menjelaskan.

Tak “seangker” pabrik pada umumnya. Suasananya teduh, karyawannya yang kebanyakan merupakan masyarakat sekitar, juga terlihat kerja santai tanpa tekanan.

Lebih jauh saya korek, pola rekrutmenya pun memang tak lazim. Mayoritas pekerja di sini merupakan orang-orang “bermasalah”, baik secara sosial maupun finansial. Mayoritas adalah orang-orang yang sedang perlu pelukan di saat merasa dibuang oleh lingkungan. “Yang penting mau kerja, amanah dan memiliki komitmen untuk berubah,” tambahnya.

Tak tahu bagaimana cara dia mengelola orang bermasalah tersebut agar tetap bekerja produktif untuk perusahaan. Yang jelas ini adalah bukti kelihaiannya mengelola sumber daya manusia. Toh usahanya yang dirintis sejak tahun 2000 an tersebut, kini sudah beromzet cukup untuk sekedar menghidupi siswa-siswi dan santri tahfidz yang dikelolanya.

Bukan saya bermaksud membandingkan atau menghakimi senior atau kawan aktivis saya lainnya yang memilih jalan berbeda dalam mendorong perubahan. Toh, jalan hidup itu memang pilihan. Yang utama, seberapa besar kemanfaatannya bagi lingkungan.

Satu hal positif yang bisa saya petik dari jalan yang beliau pilih adalah jalan “senyap” perubahan. Daripada sekedar berteriak -teriak menuntut perubahan. Beliau memilih menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. (Har)